Memukaunya Tradisi Lompat Batu di Nias, Bisa Jadi Warisan Dunia

Lompat batu Nias, Hilifalago
Lompat batu
"Wooww....wuiiihhh....kereen," demikian teriakan ratusan penonton, anak SD pun tak mau kalah untuk ikut nonton Aksi Lompat batu tersebut, diakhiri tepuk tangan meriah saat pemuda Nias desa Hilifalago, Kecamatan Onolalu, Telukdalam, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara, melakukan aksi lompat batu secara medley, Batu yang disusun persegi panjang dengan tinggi mencapai 2,20 meter dengan mudahnya dilompati oleh pemuda-pemuda ini.

Sebelum melompat, para pemuda yang mengenakan pakaian prajurit ini mengambil ancang-ancang dengan jarak yang tak terlalu jauh, yakni hanya sekitar 5-6 meter. Kemudian satu-persatu mereka melaju kencang, menginjak sebongkah batu kecil, lalu melayang ke udara melewati batu besar setinggi lebih dari 2 meter dan mendarat dengan mulus. Tubuh mereka tidak boleh menyentuh permukaan batu sedikit pun. Dengan demikian, mereka harus memperhitungkan betul antara berlari, berpijak, kemudian melayang ke udara. Jika perhitungan meleset, maka fatal akibatnya.

Cedera menjadi hal yang biasa dialami oleh para pelompat batu, seperti patah tangan, patah kaki, patah tulang rusuk, hingga cedera kepala akibat terbentur batu. Oleh karena itu, tidak semua pemuda Nias bisa melakukan lompat batu. Sekalipun telah berlatih sejak usia 7 tahun, akan tetapi hanya beberapa pemuda yang lolos sebagai pelompat batu.  

Tim Ahli Cagar Budaya Nasional (TACBN) telah menyetujui Desa Bawömataluo menjadi Cagar Budaya Nasional.

Keputusan itu merujuk hasil sidang kajian di Padang, Sumbar, pada 28-31 Juli 2016. Tahap penetapan sebagai Cagar Budaya Nasional ini merupakan salah satu syarat untuk mengajukan desa itu untuk ditetapkan sebagai Warisan Dunia di UNESCO, yang saat ini sedang diupayakan oleh Tim Ahli Universitas Gadjah Mada (UGM) dan sejumlah universitas dari Jepang sejak 2011.

Setelah penetapan Desa Bawomataluwo diajukan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. "Saat ini prosesnya tinggal menunggu SK persetujuan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan," kata Ketua TACBN Surya Helmi, seperti dilansir pusat info Nias, NiasSatu, Kamis 4 Agustus 2016.

Tim TACBN pertama datang ke Bawömataluo pada Desember 2014. Pembahasan untuk penetapan status cagar budaya yang awalnya ditargetkan pada awal 2015 tersebut molor menyusul terjadinya peralihan dan pergantian menteri serta adanya perombakan komposisi TACBN.

Ya doa kita semua, biarlah Lompat batu ini bisa GO INTERNASIONAL....  dan dikenal oleh seluruh dunia. Amin, amin...

Refrensi dari : http://lifestyle.liputan6.com

3 Responses to "Memukaunya Tradisi Lompat Batu di Nias, Bisa Jadi Warisan Dunia"

  1. apakah budaya dan tarian2 ,lompat batu di nias sudah dipatenkan di cagar budaya nasional dan UNESCO , sampai saat ini/2017 masih belom ada kabar soal ini .harapan kami saat ini dan di masa yang akan datang semoga seluruh para media dan wartawan yang berasal dari nias khususnya menelusuri soal ini supaya rakyat nias juga bangga dengan kabar berita tersebut . Trima kasih . Ya'ahowu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih komentarnya...
      smoga bisa tercapai

      Delete
  2. apakah budaya dan tarian2 ,lompat batu di nias sudah dipatenkan di cagar budaya nasional dan UNESCO , sampai saat ini/2017 masih belom ada kabar soal ini .harapan kami saat ini dan di masa yang akan datang semoga seluruh para media dan wartawan yang berasal dari nias khususnya menelusuri soal ini supaya rakyat nias juga bangga dengan kabar berita tersebut . Trima kasih . Ya'ahowu

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel